fbpx
Audi Fristya | 14 Oct 2020

#RealStory Ep.11: Pesan Bang Badar Tentang Champion

Hi Alterrans,

Gimana kabarnya? Semoga semua tetap sehat-sehat saja ya. Kita sampai di episode terbaru #RealStory nih, tidak menyangka ternyata sudah sampai di episode 11. Sebelumnya, kita sudah membahas semua values, untuk berikutnya tim KAMIS mau mewawancari beberapa leader di Alterra untuk membahas values nih. Episode kali ini, tim KAMIS mewawancarai Bang Badar dan berbincang soal value Champion. Ada beberapa pesan yang ternyata ingin Bang Badar sampaikan lho melalui #RealStory kali ini. Yuk langsung disimak!

___________________________________________________________________________________________________

Q: Apa sih definisi Champion menurut Bang Badar?

A: Definisinya mungkin akan berbeda untuk masing-masing orang, tapi kalau dari point of view gue sebagai profesional, Champion itu adalah orang yang bisa terus menaklukan tantangan yang ada dan juga rivalnya. Rival di sini bisa banyak hal, dari peers, challenge dalam pekerjaan, atau bisa jadi dirinya sendiri, tentunya semuanya dalam konteks positif ya. Jadi terkadang seorang Champion tidak melihat orang lain sebagai kompetitornya, tapi bagaimana ia bisa terus menjadi the better version of themselves

___________________________________________________________________________________________________

Q: Nah pertanyaan berikutnya, banyak orang yang enggak ambisius. Jadi enggak punya sifat kompetitif juga, ibaratnya ketika bekerja ya cuma mau bekerja seperti biasa saja.  Menurut Bang Badar gimana sih cara menumbuhkan sisi ambisius dalam diri? 

A: Ini yang ingin gue garis bawahi, sering banget orang bercanda “Ah, ambi banget sih lo!,” yang menurut gue kerap terjadi dan kata-kata ambisius jadi memiliki kecenderungan yang lebih negatif. Padahal kalau gue sendiri ditanya ambisius atau enggak, ya gue ambisius. Gue akan clearly bilang kalau gue orang yang ambisius. Banyak juga kenalan gue yang bilang “Lo tuh selain ambi, lo juga keras banget untuk mengejar apa yang lo mau.” 

Karena menurut gue yang punya kontrol terhadap diri kita adalah kita sendiri, selama kita enggak punya ambisi berarti kita akan diatur atau dimakan oleh ambisinya orang lain. Jadi kalau kita berbicara dalam hal pekerjaan, kita punya kontrol terhadap output pekerjaan kita.

Gue ingat, Mas Ananto dan Jefrey sering ngomong ke gue, control the process control the outcome. Kalau lo enggak ambisius untuk kontrol proses dalam lo bekerja, hasil akhirnya pun enggak akan bisa bagus. Kalau kita berbicara dalam konteks agama (menurut gue ini salah satu prinsip yang harus dipikirin juga), manusia itu diciptakan untuk beribadah dengan ambisi masuk surga dong pastinya. Gimana caranya mencapai itu? Ya lo harus berambisi jadi orang baik, cari pahala, menahan diri untuk melakukan hal yang tidak baik. 

Kalau gue ditanya lagi, gimana cara untuk menumbuhkan ambisi pada diri? Ya liat ke diri lo. Lo mau hidup lo gini-gini doang atau lo ingin berubah? Kalau lo ingin berubah lebih baik lagi, kuncinya memiliki ambisi dan punya life goals. Dulu gue masih suka kepikiran “Ah, masa sih harus segitunya?,” tapi setelah ngobrol dengan banyak orang yang jauh lebih pengalaman dan lebih dewasa–salah satunya mas Ananto– gue akhirnya sadar. Karena dia memberikan tantangan untuk gue buat ambisi dan life goals mau gimana, akhirnya gue jadi kebayang by this time or by this age gue harus seperti apa, and in order to become like that, gue harus melakukan apa. 

Menurut gue ambisi bisa jadi panduan menjalankan kegiatan sehari-hari, baik di kehidupan personal maupun profesional. Ini gue kasih contoh ya misalnya kalau di olahraga, ada Ronaldo sama Messi, mereka itu 10 tahun terakhir konsisten selalu peringkat atas di sepak bola. Ya itu karena mereka mendorong dirinya enggak cuma jadi juara atau top scorer saja, tapi gimana caranya supaya tahun depan tetap berada di posisi itu. 

Gue ada contoh lagi dari PilPres Amerika dulu. Waktu itu George Bush melawan Al Gore yang dulu wakilnya Bill Clinton. Al Gore itu kalah pada saat PilPres, mungkin George Bush dianggap sebagai pemenang pada saat itu. Tapi ternyata pada masa akhir jabatannya Bush mewariskan krisis ekonomi ke pemerintahan selanjutnya, sedangkan Al Gore yang dilihat sebagai “pecundang” justru end up dapat Nobel Prize. Kenapa? Karena ambisi Al Gore clear bahwa dia ingin menggunakan kekuasaannya untuk solving climate change, meskipun tidak melalui jalur PilPres. Makanya sekali lagi ambisi itu macam-macam, itu bisa jadi motivasi lo untuk melakukan sesuatu yang lebih baik atau justru sebaliknya. 

___________________________________________________________________________________________________

Q: Tapi memang sebenarnya apa sih pendapat Bang Badar mengenai stigma ambisius yang justru dianggap negatif ini?

A: Ini gue pun sempat mengalami, begitu kita pengen terlihat menonjol atau berkontribusi lebih besar, orang pasti bilang gue ambisius banget atau ngapain kerja cuma bikin kaya si pemegang saham, menurut gue sih ya jangan sampai mindset lo cuma sampai situ doang. Bayangin kalau dia berambisi kerja seolah dia pemilik perusahaan, sense of ownership-nya gitu ya, dia akan melakukan apapun–dalam konteks positif ya–untuk memastikan apa yang diinginkan perusahaan bisa tercapai dan apa yang ia inginkan juga bisa tercapai. 

Misalnya gue sendiri, dengan background engineer pada saat gue mau join Sepulsa, gue bilang ke Mas Ananto dan Jefrey bahwa gue pengen satu tahun pertama enggak ada satu pun BD selain gue. Karena gue punya ambisi gimana caranya dalam satu tahun Sepulsa survive, bisnis grow, dan gue pun grow jadi seorang businessman. Ketika lo punya ambisi untuk diri sendiri dan perusahaan, lo akan bekerja like you own the company and you will have a clear contribution. Jadi ketika bangun, gue tuh setiap pagi mikir “BD cuma lo doang Dar. Kalau lo sakit atau enggak kerja, ini bisnis enggak growing.” Gue sudah menetapkan ambisi gue di depan kedua Co-Founder, akhirnya itu jadi motivasi gue untuk jadi the better version of myself dan mempelajari lebih banyak ilmu baru lagi. 

Gue selalu berharap orang di sekitar gue enggak ada yang berkeinginan untuk jadi orang yang mediocre. Setidaknya orang punya life goal-lah, misal kayak gue pengen menikah umur berapa, nanti punya anak mau didik seperti apa, ya itu kan ambisi. Tapi ya karena kata ambisi dianggap menjadi sesuatu hal yang negatif, kadang ketika disenggol sedikit ya jadi mundur. Padahal biasanya orang-orang yang sering nyenggol orang lain dengan kata ambisi adalah orang yang lebih ambisius lho karena dia pengen menang haha

___________________________________________________________________________________________________

Q: Selain ketika Bang Badar mendapatkan feedback konstruktif, gimana sih cara lo untuk mengevaluasi diri supaya jadi lebih baik lagi?

A: Ini agak cliche, tapi gue mengalami ini setelah gue menikah. Kadang kita merasa udah oke banget, padahal sebenarnya banyak hal yang ada di blind spot kita. Kalau gue selalu merasa bahwa mengevaluasi diri juga harus melihat orang-orang terdekat kita. Kelilingi hidup lo dengan orang-orang yang benar sehingga mereka bisa kasih feedback konstruktif, dan supaya lo juga bisa merasakan apakah lo menjadi orang yang baik dengan mereka mengapresiasi lo. 

Contohnya setelah gue menikah, gue banyak dapat masukan dari istri gue untuk hal-hal yang gue anggap “biasa.” Gue jadi terpikir selama ini berarti banyak hal yang belum benar. Tapi ya itu karena enggak ada orang memerhatikan, akhirnya kita enggak tahu. Akhirnya setelah itu gue merefleksikan ke diri gue sendiri lagi, berarti selanjutnya gue harus berhati-harti dari berbicara, bercanda, sampai berpenampilan lebih baik karena gue seorang representatif perusahaan, sehingga gue harus tahu gimana caranya menempatkan diri dengan lebih baik lagi. 

Kalau sudah ada feedback konstruktif, setelah itu ya balik ke diri lo juga, seberapa sadar diri lo dengan kemampuan lo. Di Alterra kan sudah ada mekanisme feedback juga, yang gue pengen tekankan ke Alterrans adalah kalian harus jujur sama semua orang. Kenapa? Karena dari ketidakjujuran itu lah, orang jadi enggak berani atau enggak sadar untuk mengevaluasi. 

Misal anggaplah gue punya tim dan gue selalu merasa kalo gue manager yang baik karena tidak pernah ada komplen atau masalah, jadi terlihat fine. Tapi bisa jadi itu karena tim gue enggak berani bilang karena takut, merasa enggak bakal didengar, atau menganggap gue orang yang tidak bisa menerima feedback. Kalau gue bisa membuka diri ke tim, otomatis tim member gue akan berani memberikan feedback ke gue, dari situ gue akan bisa mengevaluasi diri. Kalau hal yang menurut gue oke tapi ternyata di depan orang lain enggak, ya berarti gue harus evaluasi. 

Kuncinya itu kita harus punya pasangan, rekan kerja, atasan, bawahan, atau sahabat yang open. Kalau kita punya partner yang benar, harusnya sih bisa berjalan dengan lancar. 

___________________________________________________________________________________________________

Q: Oke, gimana sih cara lo menekankan ke Alterrans supaya mereka mau belajar dan terus belajar lagi?

A: Cara paling gampang itu kita harus melihat ke luar sana bahwa situasinya enggak seenak yang kita alami sekarang. Kita juga harus berpikir, apakah yang sudah kita lakukan selama ini sudah membuat kita jadi pribadi yang lebih baik lagi atau membuat perusahaan lebih baik lagi? Kalau orang yang ingin terus belajar, dia biasanya mencari pembanding. Misal gue part of management team, terus gue mencoba membandingkan diri gue dengan manajemen tim di perusahaan lain. Apa saja yang mereka lakukan untuk membuat perusahaannya lebih besar daripada Alterra? Nah dari situ kan gue bisa tahu missing ingredients yang dia punya tapi enggak ada di gue, sehingga gue harus belajar lagi. 

Selain itu misal nih gue dengan background engineer dan akhirnya jadi BD, kalau gue enggak punya ambisi di bidang ini pasti gue enggak termotivasi untuk belajar. Gue kan harus tahu gimana cara mulai bisnis, reach out klien, email orang, motivasinya kan harusnya untuk itu. 

Intinya gue akan balik lagi ke tujuan dan ambisinya apa dulu? Kalau enggak punya ambisi, lo enggak akan mau belajar karena lo sudah merasa diri lo cukup. Kalau lo udah merasa cukup pasti apapun yang dikasih tau sama orang lain enggak akan lo dengarkan. Kuncinya adalah lo harus selalu sadar apa yang menjadi ambisi dalam hidup lo dan apa yang lo merasa bisa dilakukan untuk hidup lo jadi lebih baik lagi. Di situlah akan terjadi pembelajaran. 

___________________________________________________________________________________________________

Q: Tapi gini kadang ada orang yang merasa sudah bekerja keras, tapi ternyata dipandang orang belum cukup juga. Menurut lo gimana dan harus apa? 

A: Ini juga pernah terjadi di hidup gue, yang gue selalu lihat pelajarannya adalah jangan jadikan orang lain itu sebagai benchmark terhadap kebahagiaan kita. Gampangnya akan selalu ada orang yang merasa kita itu enggak pernah oke atau fulfill ekspektasi dia. 

Pertanyaannya, gimana kalau ternyata atasan atau bahkan perusahaan yang bilang kita belum cukup? Ya kita harus revisit. Cek lagi OKR/KPI yang dikasih ke kita itu apa. Kalau memang kita enggak achieve ya kita harus admit. Tapi kalo case-nya sudah tertulis di OKR/KPI achieve dan orang masih bilang kita kurang, then we have to fight for ourselves. Orang yang punya ambisi dia pasti akan fight dan membuktikan apa yang sudah dilakukan berikut dengan kontribusinya. Tapi kadang banyak atasan yang terkesan delusional atau teman kerja yang kompetitif banget, sehingga masih keluar kata-kata kurang ini itu. Yang penting kita harus manage expectation. Coba samakan ekspektasi sama orang itu supaya target lo pun clear

Ini pesan gue untuk para leaders dan managers, mungkin tujuannya baik karena ingin tim membernya lebih ngepush diri mereka lebih jauh lagi, tapi konteksnya enggak boleh gitu. Ada dua hal ya, yang pertama kalau orang dasarnya tujuannya positif, atasan enggak boleh melakukan itu ke timnya, karena itu akan membuat yang diekspektasi merasa salah saja terus. Sebaliknya kalau lo sebagai orang yang diekspektasi, lo harus tanya balik, ekspektasi atasan/teman kerja lo terhadap lo itu apa? Kalau ternyata dari awal dia sudah punya ekspektasi yang enggak realistis, ya no debate, lo enggak akan bisa memenuhi ekspektasi orang-orang seperti itu. 

Dengan kondisi kita yang work from home, perusahaan juga semakin besar, menyamakan ekspektasi dan menetapkan OKR/KPI yang jelas itu penting. Sehingga lo bisa tahu kalau orang lain bilang lo enggak cukup, ya enggak cukup di mana? Harus tanya balik. Kalau gue sih seperti itu, karena gue tipe orang yang enggak suka berdebat sama orang tanpa dasar.

___________________________________________________________________________________________________

Q: Wih thank you banget, adakah pesan terakhir dari Bang Badar yang ingin disampaikan?

A: Mungkin gini… kalau lo enggak punya life goals atau ambisi dalam hidup lo, percaya deh sampai kapan pun lo enggak akan bisa jadi pemenang. Lo juga harus punya ekspektasi terhadap diri dan hidup lo. Karena kalau enggak punya ambisi atau ekspektasi, lo enggak akan tahu rasanya jadi pemenang atau bahkan apakah lo bisa jadi pemenang atau enggak. Intinya sih, jangan jadikan standar lo jadi pemenang atau enggak itu dari orang lain, tapi jadikan untuk diri sendiri. Kalau lo sudah jadi the better version of yourself even though you lose in a competition, then you still be a winner. Kenapa? Karena tujuan lo bukan cuma untuk memenangkan kompetisinya, tapi menantang diri lo untuk jadi lebih baik lagi. 

___________________________________________________________________________________________________

Nah itu dia Alterrans pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh Bang Badar, gimana menginspirasi banget, bukan? Semoga setelah membaca ini teman-teman langsung termotivasi untuk menjadi Champion ya!

Sampai bertemu di #RealStory episode berikutnya!

Baca Juga Artikel Alterrans Lainnya

Tiga Bulan Berharga di Alterra

Sebelum magang di Alterra, saya tidak mengerti bagaimana cara membuat competitor benchmark, product analysis, feature benchmark. Saya juga tidak pernah mengerti bagaimana pemanfaatan data di BPS (Badan Pusat Statistik) dan lembaga-lembaga lain untuk kepentingan riset. Setelah saya magang sebagai Innovation Research Analyst di Alterra, saya jadi mengerti bagaimana mengumpulkan dan memanfaatkan data-data yang ada, agar […]

Read More

#RealStory Ep.10: Integrity Menurut Opini Chiara Tanudjaja

Hi Alterrans, Dalam episode #RealStory kali ini, tim KAMIS akan berbincang dengan salah satu Alterrans yang berasal dari divisi Corporate Strategy. Yup, ia adalah Chiara Nadya Tanudjaja. Kali ini #RealStory-nya masih membicarakan soal value Integrity. Enggak usah lama-lama, yuk kita lihat saja apa opini Chiara mengenai value yang satu ini! ___________________________________________________________________________________________________ Q: Menurut seorang Chiara, apa sih pentingnya […]

Read More
×

How can we help you?

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar produk atau bisnis dengan Alterra, silakan isi form di bawah ini. Kami dengan senang hati akan menjawab dan membantu Anda.