Audi Fristya

#AltaTalks Vol. 2: Mengenal Garry Ariel

Selamat datang di #AltaTalks Vol. 2. Kali ini tim KAMIS menyempatkan diri untuk berbincang dengan Garry Ariel, salah satu mentee batch 4 yang ternyata berasal dari latar pendidikan matematika dan pernah ikut olimpiade internasional. Gimana keseruan wawancara kali ini? Simak di sini ya!

 

Q: Hi, Gar! Boleh cerita dulu kah tentang personal life kamu? Anak keberapa? Tinggal di mana?

A: Aku sendiri asli dari Jakarta tapi kuliah di UGM. Kalau di keluarga sebenarnya berdua, sama adik satu. Aku anak pertama, adik kuliah sudah semester akhir. 

 

Q: Merantau waktu kuliah di UGM saja? Kenapa pilih jurusan matematika? 

A: Iya merantau memang ingin keluar zona nyaman saja, pengen coba. Kalau matematika memang mungkin karena passion ya. Mungkin karena saya juga bukan tipe yang menghafal ya, kalau matematika lebih mengalir. 

 

Q: Tapi untuk kamu sendiri, pas masuk kuliah ada ambisi mau jadi apa gitu enggak sih? 

A: Sekalian cerita sedikit ya… Kebetulan kenapa tertarik untuk masuk UGM itu karena isunya dulu mau ada aktuaria. Dan sampai akhirnya sekarang sudah lulus, ternyata belum ada juga sih. Cuman isu itu yang terdengar pada saat saya masuk, dan UGM pun salah satu yang buka. Akhirnya saya cobalah, tapi ketika sudah mulai masuk UGM-nya sendiri, ternyata lebih merasa asyik belajar matematika murni. Akhirnya dari situ saya berpikiran untuk berpindah haluan ke matematika murni saja. Awalnya juga saya kepikiran jadi dosen.

 

Q: Dari waktu kuliah apakah sudah mengenal dan berinteraksi dengan mahasiswa lain yang di jurusan engineer atau dengan coding sendiri? 

A: Pada saat kuliah sendiri, lumayan berinteraksi dengan anak teknik, dan ilmu komputer, walaupun masih lebih banyak matematika ya. Banyak berbincang tentang ngoding juga sama mereka, karena pas melihat kok sepertinya asyik. Mereka kan juga ada kompetisinya sendiri ya, salah satunya saya pernah ikut namanya Gemastik, kompetisi programming. Walaupun masih gagal di penyisihan awal.

 

Q: Gimana tuh cerita ikut kompetisi internasional? 

A: Waktu tahunku kompetitornya dari sekitar 50-an negara. Jadi waktu itu aku datang ke Bulgaria untuk mengerjakan sebuah tes di tempat tersebut. Kebetulan dari Indonesia waktu itu mengirimkan perwakilan sebanyak 9 orang. Dan di tahunku cukup beragam, ada yang dari UGM, ITB, UI, UPH, sampai UNAIR. Kebetulan waktu itu ikut juga dapat honorable mention. Mungkin kalau diartikan itu hampir selevel dengan juara harapan.

 

Q: Waktu itu tahu ALTA dari mana?

A: Kalau tahu ALTA, sebenarnya ada teman saya yang waktu itu sudah duluan di batch 3. Setelah itu dia memberikan informasi ke saya, karena dia tahu saya basic-nya suka ngoding karena bisa mengimpelementasikan logic itu. Jadi, dia merekomendasikan, sepertinya program ini cocok untuk saya. Puji Tuhan, ternyata saya coba ikut dan lolos akhirnya.

 

Q: Setelah kamu dikasih tahu oleh teman kamu, apa sih hal yang buat kamu tertarik untuk ikut program Alterra Academy?

A: Memang pas temanku menginfokan, aku juga memang lagi browsing tentang bootcampbootcamp serupa. Dan jujur memang yang paling “ngena” bagian kalimat “you will get paid, while you’re learning”. Karena kan memang kebanyakan kebalikannya. Bootcamp lain biasanya kalau kita mau ikut ya harus bayar dulu. Jadi, saya merasa “Wah pas, nih.”Apalagi pas lihat programnya ada Software Engineer, materinya juga ada beberapa yang sudah sempat saya pelajari juga.

 

Q: Berarti kalau bisa dibilang, dari bidang kamu sendiri, yaitu, matematika sebenarnya masih berkaitan dengan engineer ya?

A: Masih berkaitan banget. Tapi kalau yang paling berkaitan, menurut saya bagian logic-nya. Saya sendiri kan lagi belajar, itu ada salah satu mata pelajaran, mungkin sebenarnya tidak terlalu bersambungan banget, namanya Aljabar Linear. Mungkin kalau di coding sendiri tidak persis secara langsung, tapi untuk konsepnya karena aku sudah pernah dapat pelajaran tersebut, pas dilihat lagi kok mirip? Jadi, sebenarnya objeknya beda total, hanya saja konsep pemikirannya sama.

 

Q: Jadi, kamu kan tidak bisa dibilang banting setir ya karena dari jurusannya masih berkaitan. Lalu, gimana tuh pas mengerjakan tes online kemarin? Dan apa sih first impression kamu setelah akhirnya masuk kelas di Malang? 

A: Puji Tuhan, lancar sih kemarin. Pas sampai sih lebih lega, ya kemarin kan pas mengajar sambil belajar coding juga. Sekarang memang ada kesempatan belajar jadi bisa lebih fokus. Lebih senang dari segi itunya sih, dan bersyukur sekali bisa dapat kesempatan ini karena yang daftar saja bisa sampai berapa ribu. Saya dari awal berpikir kayaknya tidak bakal lolos deh hehe…. Puji Tuhan masih dikasih kesempatan.

 

Q: Selama sudah lebih dari 3 minggu ini, materi apa sih yang paling bikin kamu excited kelasnya atau mentornya? Trus siapa sih mentor favorit kamu? 

A: Kalau untuk materi sendiri sih, sejauh ini ya memang Phyton. Karena memang menurut saya yang wajib banget “kena” gitu. Kalau untuk mentor favorit, Mas Dono. Soalnya dia pernah cerita juga, latar belakang dia dari kesehatan, trus ke programming. Keren banget sih itu! Tapi dia cerita juga gimana awalnya dia struggle, sampai akhirnya jadi mengajar. Kalau dia tidak cerita kalau dia dari kesehatan, aku mikir dia ya dia background-nya IT saja.

 

Q: Selain favorit, ada enggak materi yang justru bikin kamu males karena susah banget? 

A: Mungkin karena belum terbiasa saja sih ya. Kemarin sih mungkin waktu belajar konsepnya Git. Itu baru pertama kali, benar-benar belum ada gambaran dan baru tahu. Mas Tegar mengajarnya enak sih, cuma karena memang saya masih awam sekali, jadi saya masih harus menyiapkan waktu lain untuk belajar lebih tentang materinya.

 

Q: Kalau yang non-tech ada yang jadi favorit kamu materinya?

A: Kalau Soft-skill yang pertama sih itu, feedback ya. Saya di sini harus memberikan feedback sekaligus dapat feedback dari orang lain. Aku memang tipikal orang yang pendiam dan introver banget. Jadi istilahnya kalau orang minta saya memberikan feedback, ya saya kasih ala kadarnya. Kalau orang lain enggak nanya pun saya tidak akan kasih. Pas diminta pertama kali, oh.. Ternyata dibukain sedikit-sedikit. Mungkin enggak teknis juga sih, tapi ya untuk progres juga.

 

Q: Kalau dari sisi atmosfir di Alterra Academy sendiri selama 3 minggu, apa yang kamu rasain? 

A: Mungkin dari pertama disambut, pertama kali liat langsung merasa nyaman. Di lain sisi saya juga merasakan atmosfir startup, santai. Kalau dari orang-orangnya sendiri, dari tim HR-nya saya pikir akan kaku atau gimana, tapi ternyata ya asyik pembawaannya. Kalau teman-temannya sendiri yang sekarang ini juga enak dan asyik untuk diajak kolaborasi.

 

Q: Banyak yang bilang kalau di Alterra Academy itu standarnya tinggi. Karena banyak yang lihat juga ada beberapa yang kuliahnya IT, tapi ternyata pas lulus kurang memenuhi kompetensi. Karena mungkin proses belajarnya atau gimana. Kalau dari perspektif kamu sendiri, kamu setujukah kalau di sini memang standarnya tinggi?

A: Kalau masalah standar, jujur memang saya juga merasa di sini standarnya tinggi, sih. Apalagi dengan pace-nya yang cepat per materi. Di sini dituntut untuk manage itu. Tapi bukan berarti tinggi yang enggak reachable gitu ya. Didesain memang tugas-tugasnya dipadetin. Tapi kalau menurut saya sih pas gitu polanya, jadi memang enggak semua susah. Jadi menurut saya sih, tinggi betul tapi masih reachable.

 

Q: Berarti kan kamu masih ada dua bulan lagi nih, kalau lulus. Mudah-mudahan sih lulus. Nanti kan outputnya, kamu bakal kerja di Alterra, sudah kebayang kah nanti kedepannya kamu bakal jadi Software Engineer akan gimana? Atau punya cita-cita lain? 

A: Kalau dulu pas zaman wawancara, saya memang senang dengan game. Di sisi lain, saya senang nge-game dan bikin game. Nah, dari ngoding itulah saya merasa jadi pas. Salah satu yang jadi impian itu, sih. Saya mau buat game yang bisa mengimplementasikan matematika. Mungkin sekarang kan paradigmanya matematika itu susah, saya ingin merubah itu lewat game yang isinya matematika. Dan salah satu langkahnya, menurut saya dengan ikut Alterra Academy ini, sih untuk pengalaman profesional. Mungkin memang materinya enggak langsung (mengenai game), tapi yang penting dapat basic skill untuk ngoding dulu lah.

 

Q: Selama 3 minggu sudah banyak belajar di Alterra Academy, harapan kamu kepada diri kamu sendiri seperti apa? Kira-kira proses belajar di sini bisa merubah diri kamu jadi sosok yang seperti apa sih dalam 3 bulan kedepan?  

A: Saya sih berharap dari sini akan membuka link-lah untuk networking. Sama saya juga berharap bisa mengikuti materinya, supaya bisa dapat skill baru. 

 

Q: Terakhir, adakah saran untuk Alterra Academy? Apa yang masih kurang, supaya bisa diperbaiki kedepannya? 

A: Kalau dari yang sejauh ini sih, sudah sesuai dengan ekspektasi saya. Semua sudah terpenuhi dengan baik.

 

Q: Okay, terima kasih banyak Garry atas waktunya!

A: Sama-sama!

 

Wah, sebuah cerita yang cukup inspiratif dari Garry. Nantikan cerita selanjutnya di #AltaTalks Vol. 3. See you! 

Baca Juga Artikel Alterrans Lainnya

#AltaTalks Vol. 1: Wawancara bersama Mohammad Daffa

Hai Alterrans! Selamat datang di #AltaTalks pertama di KAMIS, #KetikaAlterransMenulis! Apa sih #AltaTalks itu? Jadi di tahun baru ini, tim KAMIS akan melakukan interview dengan orang-orang yang berada di balik ALTA atau Alterra Academy. Siapa saja orang-orang tersebut? Ya bisa dari tim Alterra Academy, para mentor, hingga para mentee. Nah, #AltaTalks yang pertama tim KAMIS berhasil mewawancarai […]

Read More
Ghea Rianty

Digital Marketing di Bisnis B2B: Ini Strategi yang Kami Coba di Alterra

Ketika menulis artikel ini, memori saya melesat jauh ke bulan April 2019. Di mana saya mengikuti kelas Public Speaking untuk karyawan yang diadakan Alterra Indonesia, perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Di kelas tersebut, sesi final yang menjadi ‘gong’ adalah setiap peserta wajib praktik berbicara atau presentasi di depan publik. Dalam hal ini, kepada peserta lain. […]

Read More
×

Tell Us Your Problem & We Will Be There to Help

Silakan hubungi kami melalui kolom di bawah ini untuk partanyaan seputar Alterra.