Trimo Leksono

“Gue Nggak Mau Coaching!”

Apa yang terlintas pertama kali di pikiran kamu saat mendengar kata coaching? Nah, mungkin beberapa asumsi berikut ini akan terasa familiar:

“Wadidaw, gue bakal dikeramasin nih :(“

“Gue harus siap-siap nih biar bisa survive dari hari itu.”

“Kehidupan gue bahagia dan performance gue juga baik-baik saja, kok. Gue gak mau coaching!”

Buat kebanyakan orang, coaching itu terdengar sangat menyeramkan. Ada juga yang bahkan langsung merasa terintimidasi saat baru mendengar kata itu.

Saya pernah melemparkan pertanyaan di suatu forum tentang kesan pertama saat orang mendengar kata coaching dan YES: 90% mengatakan INTIMIDATING adalah kesan pertama yang terlintas. Sementara sisanya menjawab jika coaching itu adalah aktivitas yang dapat membantu mereka dalam berbagai bidang kehidupan.


Pergeseran Makna Coaching

Coaching jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia artinya adalah pelatihan atau pembinaan. Menurut KBBI Online yang diterbitkan oleh Kemendikbud, kata “pelatihan” yang sesuai dengan konteks coaching merupakan kata turunan dari kata dasar “latih” yang memiliki arti:

“Pelatihan (n) 1. proses, cara, perbuatan melatih; kegiatan atau pekerjaan melatih: ~ yang diberikan belum cukup; di bidang industri, perusahaan itu sudah mulai melakukan ~ sendiri.”

Ya, itulah sebabnya, mengapa kebanyakan dari orang Indonesia kurang tepat dalam mengartikan apa itu coaching. Sebab, makna katanya bergeser atau menyempit dari makna kata asalnya. Dalam Linguistik, setahu saya, situasi ini dikenal dengan istilah peyorasi atau penyempitan makna dan penyebabnya pun beragam.  

Nah, dalam bahasa Inggris, Sir John Whitmore yang memang seorang ahli sekaligus pioneer dalam industri coaching mengungkap bahwa makna coaching adalah:

“Coaching is unlocking a person’s potential to maximise their own performance. It is helping them to learn rather than teaching them.”

Dalam bahasa yang lebih sederhana, coaching itu aktivitas mengantarkan dari titik A ke titik B. Apa sih yang diantarkan? Macam-macam: bisa tujuan, solusi, cara atau pun hal lain misalnya berbagai pilihan dalam melakukan sesuatu.

Coaching bisa diibaratkan merupakan aktivitas mengurai benang kusut pemikiran yang ada di kepala coachee menjadi sekumpulan pilihan atau action plan

Kemudian, coachee akan mendapatkan manfaatnya setelah sesi coaching selesai dengan melihat kembali kemudian menjalankan setiap action plan yang sudah ada.


Bedanya Coaching dengan Kata atau Istilah Sejenisnya

Kadang-kadang, orang memaknai coaching sebagai hal yang tumpang tindih dengan mentoring, consulting hingga counseling. Maka dari itu, untuk lebih mudah bagi kita memahami perbedaan antara coaching, counseling, counseling, hingga mentoring, yuk tengok gambar di bawah ini:

Perbedaan antara Coaching, Counseling, Consulting, dan Mentoring

Metode utama yang digunakan dalam coaching adalah bertanya. 

Iya, benar, “hanya” bertanya. Tapi, yang penting dan perlu menjadi catatan di sini adalah: bertanya atau pertanyaan seperti apakah yang harus dilontarkan agar coachee bisa menuju ke titik B atau mencapai goal yang sudah disepakati di awal? 🙂

Dalam sesi coaching, hanya ada 2 orang yang berperan, yaitu coach dan coachee.

Posisi duduk yang ideal ketika coaching adalah bersebelahan atau bersamping-sampingan antara coach dan coachee. Sebab, jika posisi duduknya berhadapan, dikhawatirkan coachee akan merasa terintimidasi oleh coach.

Di sini, coach akan berperan sebagai alter ego dari coachee. Jadi, apapun yang dikatakan oleh coachee akan diambil “saripatinya” oleh coach.

Lalu, apa hasilnya?

Nah, hasil dari sesi coaching tentu berbeda-beda pada setiap subjek. Namun yang pasti, sifatnya rahasia atau confidential. Hasil hanya boleh diketahui oleh coach dan coachee. Boleh saja dibagikan atau diketahui pihak lain, namun tentunya hanya apabila ada izin dari coachee. 


Kapan Kamu Membutuhkan Coaching?

Jawabannya sederhana: saat kamu merasa atau berpikir bahwa kamu mempunyai capability alias kemampuan tapi bingung harus memulai dari mana dan bagaimana. Nah, saat itulah kamu membutuhkan coaching.


From Zero to Hero

Sebagai salah satu leader di Alterra saya mendapatkan ‘kemewahan’ untuk belajar menjadi The Next Coach. Saat kesempatan ini datang, saya tentunya tidak menyia-nyiakannya. 

Salah satu ‘wasiat’ dari CEO Alterra terkait hal ini adalah menjadikan coaching sebagai kultur di lingkungan perusahaan, minimal di level teamMungkin, coaching ini sekilas terlihat sederhana, tinggal dijalankan, kemudian tim mau mengikuti karena manfaatnya besar. Oh tapi, tidak semudah itu myluv! 

Sebab, seperti yang saya sudah paparkan di awal, coaching sendiri sebagai istilah sudah bergeser maknanya, sehingga membuat orang jadi menjaga jarak dengan coaching. 

Okelah, karena saya pikir “gue anaknya tough nih”, maka saya harus cari cara agar coaching ini beneran bisa jadi kultur di Alterra, akhirnya saya membuat formula ini:


Build Awereness

Jangan pernah bosan berbagi tentang apa itu coaching. Sampaikan dalam bahasa yang sangat sederhana sehingga orang akan mudah menerima dan memahami. Di sini, pasti ada satu atau dua orang yang penasaran untuk mencoba. Maka, jangan sia-siakan kesempatan ini!

Create Success Story

Mintalah testimoni dari coachee akan manfaat sesi coaching yang telah dilakukan. Jika coachee berkenan, coachee juga dapat menceritakan pengalaman coaching-nya di depan forum. Cause, word of mouth always works!  

Nah, dengan adanya sharing pengalaman ini, seharusnya akan semakin banyak yang akan tertarik untuk mengikuti sesi coaching yang kamu buka.

Make A Time

Saya pribadi menyediakan jadwal khusus selama 1 jam setiap minggunya untuk sesi coaching. Kamu bisa juga melakukannya. Namun, pastikan semua orang tahu jadwal tersebut. Sebagai tips, kamu juga bisa kasih nama jadwal yang kece biar orang gampang ingat.

Dengan adanya jadwal coaching yang jelas, team member akan mudah saat mereka ingin melakukan coaching, bertanya tentang manfaatnya, hingga kemudian mengambil manfaat dari sesi itu.

Persistence

Yang terakhir ini penting banget sih. Kamu juga mesti persistence alias gigih dalam menjalankan coaching. Dengan begitu, niscaya reputasi kamu juga akan terbangun sendirinya. Coachee pastinya akan mendapatkan manfaat dari sesi coaching, begitu juga dengan kamu sebagai coach-nya. 

Pengalaman saya, beberapa manfaat yang saya dapatkan sebagai coach di antaranya adalah:

  • Saya bisa menjadi pendengar yang baik. Yes, sebagai coach tentunya kita harus belajar menjadi pendengar yang baik agar sesinya menjadi berkualitas. 
  • Saya bisa melatih empati dan juga menjadi pribadi yang open minded. Saya bisa melihat permasalahan dari sudut pandang coachee. 
  • Sebagai seorang coach, saya juga berlatih agar bisa menjaga fokus terhadap goal yang ingin dicapai dalam satu sesi coaching.
  • Yang terakhir, menjadi coach juga membuat saya bisa membuat daftar rencana yang actionable dan juga terukur.

Jadi sekarang, beneran masih gak mau coaching nih? Hehe. 

Baca Juga Artikel Alterrans Lainnya

Cindy Felita Nur Alimah

Kiat-Kiat Membangun Kebiasaan

Pernah enggak, ingin membangun suatu kebiasaan tetapi susah? Seringkali hanya berjalan beberapa hari lalu malas menghampiri. Akhirnya, kebiasaan yang ingin kita bangun hanyalah mimpi. Kebiasaan adalah suatu hal yang dikerjakan secara berulang oleh seorang individu. Setiap individu memiliki kemampuan untuk mengubah dari perilaku lama ke perilaku baru dan perilaku buruk ke perilaku baik.  Lalu, bagaimana […]

Read More
Aldi Kuswiryawan Dipasanta

Life at Alterra: The Good, The Bad & The Ugly

Retrospective setahun bersama Alterra Opinions are my own. Setahun bersama Alterra (sebelumnya Sepulsa), tidak sedikit hal yang terjadi. Namun apa yang akan saya tulis tidak akan mungkin mencakup semuanya, akan ada banyak hal yang terlewat. Ini hanyalah sekelumit kisah yang saya alami secara garis besar. Well, tanpa membuang waktu terlalu lama, mari kita mulai. The […]

Read More