Mugh Dzin Syah

How I Enjoy My Work at Alterra

Alhamdulillah sekarang ini aku dapat bekerja sebagai salah satu Software Engineer di PT. Alterra, suatu perusahan yang bergerak di bidang teknologi yang semoga menjadi perusahaan terbaik di indonesia yang menangani billing system. Sebelumnya, tak pernah terlintas di pikiranku untuk bekerja di dunia IT apalagi sebagai Software Engineer, itu sungguh merupakan challenge yang cukup besar bagiku karena aku bukan berasal dari background IT. Sebelumnya aku menempuh pendidikan S1 di Universitas Brawijaya Malang jurusan Teknik Industri, sebenernya di jurusan Teknik Industri ada salah satu konsentrasi penjurusan yang fokus tentang IT, yaitu Sistem Informasi Industri. Namun, rata-rata peminat konsentrasi itu sangat sedikit, dulu dari teman seangkatan yang jumlahnya sekitar 260 orang, kurang dari 20 orang yang berminat mengikuti konsentrasi itu, dan aku nggak termasuk dalam 20 orang itu.

Dulu, aku mengambil konsentrasi Rekayasa Sistem Industri yang menurutku memiliki peluang yang cukup besar untuk masuk ke perusahaan manufaktur. Jadi, sebenarnya bisa dibilang bahwa aku nggak punya basic sama sekali terkait koding. Nah, bagaimana aku bisa kerja sebagai Software Engineer yang rata-rata orang jurusan IT yang bisa memasukinya? Itu mungkin pertanyaan dari temen-temen yang mengenalku dan tahu bahwa aku bukan berasal dari backgorund IT.

Sedikit cerita, aku bisa masuk ke PT Alterra ini melalui Alterra Academy atau yang biasa disingkat menjadi ALTA, nah apa itu ALTA?

ALTA adalah suatu program khusus yang diadakan oleh PT Alterra yang memberikan pelatihan menjadi Software Engineer selama 3 bulan full walaupun bukan berasal dari background IT. Waktu itu di pertengahan tahun 2018, aku datang ke job fair UB dan kebetulan sedang dibuka ALTA batch 2. Setelah melihat-lihat dan tanya detailnya tentang program itu, aku memutuskan untuk daftar ke program itu karena penawarannya memang benar-benar menarik, jadi kita akan diberikan pelatihan secara gratis, fasilitas disediakan, akomodasi ditanggung dan bahkan mendapat uang saku, setelah lulus pun dijamin bisa kerja dengan kontrak durasi tertentu, siapa yang nggak mau coba? Pasti kalau mendengar penawaran seperti itu banyak sekali orang yang berminat. Dan aku menyadari persaingan untuk masuk kesana pasti berat, jadi aku berusaha semaksimal mungkin pada setiap tahapan tesnya, dan alhamdulillah aku bisa lolos sebagai salah satu peserta Alterra Academy di batch ke-2.

Awal masuk pelatihan ALTA ini, benar-benar membuatku kaget karena setiap materi dan challenge benar-benar baru dan berat. Sebagai gambaran, materi yang biasanya ditempuh di perkuliahan selama satu semester, harus kita pahami di academy selama 1-2 hari. Jadi seakan-akan materi kuliah jurusan IT selama 4 tahun dipadatkan menjadi 3 bulan saja. Memang berat, apalagi setiap hari aku pulang pergi dengan jarak tempuh antara rumah ke kantor sekitar 20 km atau sekitar 45 menit perjalanan. Selama 3 bulan di academy, rata-rata setiap hari aku berangkat jam 8 pagi, dan pulang paling cepet sekitar jam 10 malam, kadang malah sampe nginep nggak tidur seharian buat nyelesaikan task, hehe. Memang bener-bener challenging dan harus tetep menjaga motivasi supaya bisa survive di academy.

Aku selalu memotivasi diri bahwa “Everything can be learned”, segala sesuatu itu pasti bisa dipelajari, apapun itu, walaupun susah tapi kalau kita memang sungguh-sungguh pasti bisa. Menurutku, sebenarnya nggak ada istilah orang itu bodoh, yang ada adalah orang itu mau belajar atau tidak, buktinya, bukankah kita sewaktu kecil bahkan membaca pun kita tidak bisa? Lantas, sekarang bisa lancar membaca berbagai bahasa? Nah, itulah proses belajar, dari nggak bisa menjadi bisa, dari yang biasa menjadi luar biasa. Jadi jangan sampai kita merasa cukup untuk melakukan proses belajar, karena semakin kita belajar hal baru, maka kita akan menyadari bahwa banyak sekali sesuatu yang ternyata belum kita ketahui dan tentunya kita akan semakin “grow”. Dan alhamdulillah dengan mindset itu aku bisa melalui pelatihan ALTA dan sekarang ini dapat bergabung sebagai salah satu Software Engineer di Alterra.

Pada awal menjalani pekerjaan menjadi Software Engineer, jujur aku masih merasa berat dan belum bisa merasakan passion ketika koding, karena menurutku dengan waktu yang hanya tiga bulan terasa sangat singkat dan masih kurang untuk merubah haluan dari background Teknik Industri menjadi basis IT. Akan tetapi aku harus tetep berusaha menikmati pekerjaanku, kenapa? Coba kita renungkan sejenak, kita diberikan waktu sehari selama 24 jam, dan rata-rata lebih dari “sepertiga” dari waktu yang kita miliki, kita habiskan untuk bekerja, Jika kita tidak bisa menikmati kerjaan kita, bagaimana kita bisa menikmati hidup kita? Nah, itu yang menjadi mindset-ku, bagaimanapun caranya aku harus bisa menikmati apapun pekerjaan yang sedang kulakukan. Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah sekarang ini aku udah merasa enjoy banget dengan kerjaanku sekarang.

Nah, beberapa hal di bawah ini adalah usaha yang telah kulakukan untuk mencapai itu dan mungkin bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman yang mengalami hal yang sama:

1. Bangun mindset yang positif

Langkah pertama yang kulakukan untuk bisa menikmati pekerjaanku adalah membangun mindset yang positif. “If you can change your mind, you can change your life.” —William James.

(Foto: Dok. Shanecradock.com

Nah, mindset kita terhadap kerjaan, akan mempengaruhi bagaimana sikap kita dalam menjalani kerjaan kita. Sebagai contoh, apa yang kita pikirkan mengenai kerjaan kita saat ini? Apakah kita masih memiliki mindset bahwa kerjaan adalah kewajiban atau bahkan beban? Jika ada di antara kita yang masih memiliki mindset seperti itu, kita akan merasakan bahwa kerjaan memang menjadi beban dan itu akan menambah tingkat stres kita pada suatu pekerjaan. Berbeda kalau kita memiliki mindset bahwa pekerjaan itu bukan hanya sekadar kewajiban, melainkan bagaimana kita men-challenge diri kita, coba pasang mindset itu, kita tidak akan merasa terbebani dengan kerjaan kita dan bisa jadi malah kita merasa senang ketika kita mendapat kerjaan yang menurut orang lain berat untuk dilakukan.

 

2. Cara pandang terhadap suatu masalah

Error saat menulis code mungkin sangat wajar terjadi apalagi kalau kita masih tergolong pemula dalam menulis suatu code. Tapi jangan sampai kita terlalu lama merasa “stuck” dengan error yang seringkali muncul, karena semakin lama kita merasa stuck maka semakin tinggi pula tingkat stres yang muncul pada kerjaan yang sedang kita lakukan. Langkah pertama ketika aku sedang mengalami stuck ketika ngoding adalah “learn to relax”. Bisa jadi kita udah terlalu lelah dan jenuh untuk duduk di depan komputer, sehingga butuh istirahat sejenak atau mungkin kita butuh suasana baru untuk lebih men-refresh pikiran. Menurutku hal ini cukup efektif, karena ketika pikiran lebih fresh semakin banyak ide-ide yang muncul untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang kita hadapi. Bagaimana kalau udah men-refresh pikiran tapi tetep stuck karena belum nemu solusi dari eror yang muncul? Nah, yang kulakukan adalah menanamkan mindset bahwa setiap permasalahan itu pasti ada solusinya. Hal ini bisa aku analogikan seperti mencari destinasi via Maps. Nah, destinasi kuibaratkan sebagai goal atau apa yang ingin kita selesaikan dari suatu permasalahan, dan rute menuju destinasi adalah metode atau cara yang harus kita tempuh untuk mencapai goal kita.

Jika kita renungkan sejenak, bukankah rute dari Surabaya menuju Malang sebenarnya ada “ribuan” rute yang bisa kita tempuh? Kita dari Surabaya ke Malang lewat Bali sebenarnya juga “bisa”, tapi muter dulu, hehe. Artinya apa? Sebenarnya ada ribuan solusi juga dari setiap permasalahan yang sedang kita hadapi, cuman kita harus memilih metode yang paling tepat untuk menyelesaikannya. Poinnya adalah bahwa “setiap masalah itu pasti ada solusinya”, ketika kita merasa stuck, mungkin saat itu rute yang kita tempuh sedang menemui jalan buntu sehingga kita harus putar balik dan mencari jalan lain. Artinya, coba kita ganti pendekatan dalam menyelesaikan permasalahan, misal dari mencari solusinya sendiri, kita ganti metodenya dengan tanya ke rekan atau senior kerja, bisa juga tanya-tanya lewat forum, sampai solusi permasalahan kita bisa didapatkan.

 

3. Buat lingkungan kerja versimu

Nah, lingkungan kerja juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kenyamanan kita dalam bekerja. Beruntungnya, di Alterra ini menurutku udah terbaiklah dalam membuat lingkungan kerja, hehe. Kita diberikan kebebasan dalam hal berpakaian, kebebasan dalam mengatur meja kita, ada snack, berbagai macam minuman di pantry, bahkan ada jatah kerja dari rumah. Jadi hal ini harus bener-bener dimanfaatkan untuk membuat lingkungan kerja versi kita sendiri, misal pakai pakaian yang paling nyaman, makanan minuman favorit, music favorit, dan lainnya sehingga kita bisa lebih produktif dalam bekerja.

 

4. Bangun relationship yang baik dengan rekan kerja

Relationship dengan orang lain pasti mempengaruhi kenyamanan ketika bekerja. Coba bayangkan kalau di antara kita dan rekan kerja terjadi relationship yang tidak sehat, misal saling menyalahkan, gosip yang tidak baik, atau bahkan persaingan yang tidak sehat seperti saling menjatuhkan. Pastinya kita merasa sangat tidak nyaman bukan? Sebenarnya banyak sekali faktor yang mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain, akan tetapi yang menurutku menjadi faktor yang paling penting adalah “komunikasi”. Semakin baik komunikasi kita dengan orang lain maka semakin baik pula relationship kita.

Nah, itu merupakan beberapa hal yang udah kulakukan sehingga bisa menikmati pekerjaanku saat ini, walaupun basic keilmuanku sangat berbeda dengan pekerjaan yang kulakukan saat ini. Semoga tulisan yang kutulis ini dapat memberikan manfaat bagi siapa pun yang membacanya dan aku juga mohon maaf jika ada kata-kata yang mungkin dianggap kurang tepat, karena dalam hal menulis aku masih dalam proses belajar, hehe. Sekian, semoga bermanfaat dan terima kasih!

Baca Juga Artikel Alterrans Lainnya

Life at Alterra (Academy)

“Fik, lo tahu ga kenapa gue ngajak lo ngobrol sekarang?” Bang Mael bertanya dengan suara yang dalam. “Tahu, Bang. Nilai live code gue jelek, kan?” jawabku. Bang Mael melanjutkan, “Iya. Lo tahu, kan, apa artinya kalau nilai live code berikutnya enggak masuk?” “Iya, Bang. Gue bakal dieliminasi dari Alta,” jawabku setengah putus asa.   Percakapan […]

Read More
Rizqon Sidik Maulana

Cendol Dawet

Oke jadi begini, aku akan bercerita tentang bagaimana kisahku bersama keluarga baru Alterra selama kurang lebih 5 bulan. Semuanya akan dirangkum dalam cerita pendek ini. Namaku Rizqon Sidik Maulana dan selamat membaca. Awalnya nama Alterra itu kuketahui dari teman kampus yang juga bekerja sebagai Software Engineer di Alterra, saat itu aku masih bekerja sebagai juru […]

Read More