Syauqi Rahmat Sugara

Kerja Serius Tapi Santuy

Mungkin tidak sedikit orang yang bertanya siapa sih programmer? Apa yang biasanya dikerjakan oleh programmer? Apakah seorang programmer memang benar-benar menghabiskan waktunya di depan komputer? Kalau iya, berarti programmer itu tidak sejalan dengan gaya hidup anak zaman sekarang yang suka berbaur di kedai kopi sambil bicara masa depan atau berlibur ke alam sambil menikmati keindahannya dengan mata telanjang. Karena mungkin programmer hanya berteman dengan komputer yang selalu diajaknya berkomunikasi melalui kode-kode yang mungkin isinya pesan cinta? Maaf sedikit menyimpang haha. Baiklah sebelum saya menceritakan opini terhadap rasa penasaran tersebut, saya akan sedikit berbagi tentang apa yang saya rasakan saat awal mengenal kehidupan tersebut.

Dulu saya sempat dilanda keraguan apakah yang saya geluti ini sudah benar dan sesuai dengan apa yang saya harapkan atau tidak. Karena sebelumnya saya belum pernah mengenal dan masih cukup gagap akan hal-hal berbau teknologi, sedangkan saya berharap apa yang saya tekuni bisa bernilai tanpa harus mengorbankan kebahagiaan-kebahagiaan yang lain. Pada saat itu saya masih berada di tahap awal belajar dan memang terasa cukup melelahkan karena harus memaksa diri untuk bisa betah di depan komputer demi menyelesaikan rangkaian kode yang harus bisa berjalan sesuai harapan.

Memang lama kelamaan saya terbiasa dengan hal tersebut karena sudah menjadi rutinitas. Namun keraguan itu muncul lagi setelah mendengar beberapa pertanyaan yang tidak jarang saya dapat dari kawan-kawan dekat seperti, “Apakah kamu tidak jenuh seharian menatap kode-kode rahasia di layar laptopmu ini? Apakah kamu tidak takut dengan pola hidup begadang hingga larut malam dan bangun kesiangan? Apakah hal seperti ini akan kamu lakukan hingga masa tua nanti?”

Ya, tentu saja pertanyaan itu membuat saya berpikir dua, tiga, empat atau bahkan beberapa kali. Apakah pilihan menjadi seorang programmer akan merenggut banyak hal dari kehidupan yang sangat luas ini? Tidakkah saya menjadikan hidup ini agar bermakna bagi diri maupun orang lain, dan juga pastinya untuk meningkatkan ibadah kepada sang Pencipta karena esensi hidup yang sebenarnya ya untuk mendapat keberkahan dan keridhoan dari Yang Maha Kuasa terhadap apa saja yang telah saya kerjakan. Hingga pada akhirnya saya terjun langsung menjadi seorang programmer dan pertanyaan itu masih terngiang di ingatan saya.

Sepulsa yang sekarang berganti nama menjadi Alterra merupakan perusahaan di mana untuk pertama kalinya saya mengaplikasikan apa yang sudah saya pelajari sebelumnya. Selama di sini saya merasakan sesuatu yang berbeda dari apa yang saya pikirkan sebelumnya. Keraguan saya mulai perlahan hilang, karena yang dipikirkan sebelumnya ternyata tidaklah seperti itu. Di sini para programmer atau engineer memiliki waktu luang yang cukup untuk melakukan hal lain di luar pekerjaannya.

Mulai dari jam kerjanya yang cukup fleksibel tidak sekaku pegawai pemerintahan yang bekerja sesuai jam masuk yang telah ditentukan. Bahkan tersedia jatah untuk bekerja secara remote tiap minggunya tanpa harus ke kantor. Pakaian ke kantor pun diberikan kebebasan asal sopan, sehingga kita bekerja terasa lebih santai dan tidak kaku. Programmer yang saya pikir hanya akan berkutat di depan komputer itu ternyata tidak benar, kita justru dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan siapapun. Bahkan kantor menyediakan fasilitas-fasilitas yang menunjang peningkatan skill di luar IT seperti komunikasi, jasmani, dan lainnya lagi.

(Foto: Dok. Alterra)

Kembali ke pertanyaan paling penting bagi saya “Apakah kamu tidak jenuh?” Sekarang saya berani menjawab tidak! Bergelut di lingkungan seperti ini bukan hanya bicara soal menulis kode kemudian bisa jalan, tapi utamanya yakni bagaimana kita menjawab permasalahan-permasalahan yang ada dengan solusi yang tepat dan mudah diterima. Tidak ada istilah meniadakan permasalahan karena permasalahan pasti selalu muncul dan tugas kita adalah menjawabnya.

Dari proses menjawab permasalahan-permasalahan tersebut kita belajar banyak hal tergantung di mana konteks permasalahan yang sedang kita selesaikan. Dan dari sana kita akan berinteraksi dengan banyak orang, dari berbagai macam karakter sehingga lingkup komunikasi kita akan sangat luas tidak hanya sebatas dengan komputer. Jadi tidak ada alasan untuk menetapkan bahwa peran ini menjenuhkan, semua itu tergantung pada diri masing-masing apakah peran ini cocok dengan diri kalian.

Setelah saya menjalani dan merenungi apa yang sedang saya tekuni, saya memutuskan untuk mulai berusaha menjadi “programmer santuy” versi saya yaitu programmer yang tidak harus begadang hingga larut malam untuk menyelesaikan pekerjaannya, karena lebih baik tidur diawal malam dan bangun dini harinya, programmer yang tidak lupa beribadah kepada sang Pencipta agar tetap terjaga di koridor yang seharusnya dan memperoleh keridhoan agar setiap yang dikerjakan bermanfaat dan bernilai. Programmer yang tidak lupa untuk menikmati kebahagiaan-kebahagiaan lainnya.

Intinya harus mulai hijrah untuk menjadi programmer yang lebih baik agar hidup ini tidak hanya sebatas coding dan coding tetapi juga diiringi dengan aktivitas yang menambah ukuran dari seberapa bermanfaat kita terhadap orang lain dan seberapa erat kita berhubungan dengan Sang Pencipta.

Baca Juga Artikel Alterrans Lainnya

Tegar Imansyah

Antara Komunitas & Pekerjaan: untuk Software Engineering yang Lebih Mudah

Sebagai seorang Software Developer, pernah nggak, kamu merasa stuck lalu menemukan jawabannya di stackoverflow? Atau, kamu pengen tau sesuatu dan ternyata ada yang share pengetahuannya di meet up atau grup Telegram komunitas? Kalau pernah, selamat! Artinya, kamu sudah merasakan manfaat dari komunitas. Nah, di tulisan ini, aku juga akan share pandanganku tentang open knowledge. Sebagai […]

Read More
Antonius Ananto Eko

Epilog Kegagalan

Demikian kalimat yang terlontar dari mulut Napoleon Bonaparte, menanggapi keraguan seorang jenderal atas rencananya yang dianggap tidak mungkin. Sejarah membuktikan bagaimana Napoleon berhasil mengukir sejarah sebagai manusia terkemuka di dunia dengan segala pencapaiannya. “Pencapaian” yang oleh orang lain dianggap tidak mungkin. Kita memang sering mengatakan tidak mungkin, ketika menghadapi sebuah masalah yang berat. Bahkan menganggapnya […]

Read More