Audi Fristya | 20 May 2021

#RealStory: Membicarakan Soal Kolaborasi Bareng Muhsin Shodiq

Hola Alterrans!

Bagaimana libur lebarannya? Semoga semua tetap menjalankan protokol kesehatan ya! Nah, lebaran usai ada #RealStory baru yang siap menemani kamu menghabiskan bulan Mei ini. Ada siapa kali ini? Yes, ada Muhsin Shodiq selaku Head of Architecture akan membagikan cerita dan tips menginspirasinya mengenai kolaborasi tim. Tidak perlu lama-lama, yuk langsung simak wawancara lengkapnya!

________________________________________________________________________________________________________

Q: Menurut Mas Muhsin, apa sih peran penting kolaborasi di pekerjaan?

A: Menurutku itu salah satu aktivitas kunci ya, karena kita tidak pernah bisa bekerja sendirian. Pasti kerja tim, baik itu internal tim atau dengan tim yang lain gitu ya. Sehingga kolaborasi itu sangat dibutuhkan. Kalau kita tidak ada kolaborasi, kemungkinan besar success rate untuk proyek atau task yang kita kerjakan akan lebih rendah. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Berbicara soal success rate, apa yang Mas lakukan untuk memastikan tim yang mas pimpin selalu deliver pekerjaan dengan baik dan memuaskan customer-nya?

A: Yang pertama, setiap tim harus tahu dulu objektif dari task yang dikerjakan itu apa? Yang kedua, masalah yang ingin diselesaikan itu apa? Sehingga ketika mengerjakan bukan hanya sebatas mengerjakan, tapi mereka tahu apa yang ingin mereka selesaikan. 

Nah, ketika mereka sudah tahu masalah apa yang akan mereka selesaikan, berarti bisa diklasifikasi apakah task tersebut on their control atau apakah butuh bantuan dari departemen atau tim lain. Biasanya dari situ sih bisa melihat “Oh, ini butuh kolaborasi dengan tim lain,” “Oh ini butuh bantuan support dari tim yang lain.” Makanya, kolaborasi dan success rate dari sebuah tim itu pasti ada hubungannya atau erat hubungannya. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Bagaimana cara mas Muhsin memperbaiki kolaborasi yang ternyata kurang bagus?

A: Kolaborasi itu kan penting ya. Tapi, yang suka menjadi masalah itu adalah ketika mindset kolaborasinya adalah “I have to win.” Terkadang hal tersebut kerap terjadi, jadi masih ada yang “Gue maunya A,” “Gue maunya B.” Ego mungkin ya. Tapi ketika berkolaborasi, ya tidak boleh hanya melihat dari satu sisi, kita harus melihat dari both sides. Kita harus tahu concern dari tim yang kita minta support itu apa saja. Jadi ketika berkolaborasi mindset yang harus dibentuk adalah solving problem together

Harusnya sih itu yang akan membuat kolaborasinya berjalan dengan baik. Based on my experience, yang aku lihat kolaborasi itu tidak berjalan dengan baik hanya karena “Gue butuh ini,” tapi tidak melihat orang yang diminta bantuan itu sedang punya masalah apa. Jadi kalau masalah bisa kita selesaikan dari dua sisi harusnya kolaborasi itu akan lebih efektif. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Berbicara soal ego, mungkin masing-masing divisi masih memiliki ego meskipun berada di dalam satu perusahaan. Bagaimana menyamakan ego tersebut agar kolaborasi berjalan lebih efektif?

A: Bisa diperbaiki dari cara berkomunikasinya. Bedakan komunikasi ketika kita datang ke tim lalu bicara seperti “Eh tolong dong gue minta lo kerjain ini,” itu akan berkesan “menyuruh” ya. 

Lain lagi kalau kita berbicara dengan komunikasi yang lebih baik, seperti “Eh kalian lagi punya problem apa? Gue punya problem ini. Kira-kira bisa kah kita solving this problem together?”  Atau “Gue butuh bantuan kalian untuk menyelesaikan masalah ini. Nah, dari kalian ada enggak masalah yang butuh bantuan kita juga?.” Harusnya kalau dari dua arah dan saling mendukung, aku rasa sih itu bisa menekan permasalahan ego tadi. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Sebagai leader tentu Mas Muhsin membawa sedikit banyak perubahaan untuk tim yang Mas pimpin. Gimana Mas Muhsin sebagai leader menanggapi kalau ada yang memberikan feedback negatif terhadap perubahan yang Mas bawa?

A: Setiap perubahan itu kan harapannya adalah untuk membuat sesuatu ke arah yang lebih baik lagi. Makanya dilakukan perubahan untuk menjadi lebih baik, terutama yang harus dilakukan adalah kita memberitahu perubahan ini untuk memperbaiki hal apa dan yang mana? Tapi tidak menutup kemungkinan juga, bahwa perubahan itu bisa menjadi tidak baik untuk hal lain yang tidak terpikirkan di awal. Tapi kan hal tersebut terjadi tidak dengan sengaja. Tidak mungkin membuat perubahan untuk sesuatu yang lebih buruk, semua pasti ingin menjadi lebih baik. 

Tapi ya tidak menutup kemungkinan kalau ada blind spot atau hal-hal yang tidak terpikirkan di awal, dan ketika menjalaninya perubahaan itu ternyata ada miss di satu area yang lain. Mindset di awal yang harus ditekankan ke seluruh tim adalah bahwa yang pertama, perubahan itu untuk apa? Untuk menyelesaikan masalah apa? Jika ada masalah lain yang muncul tidak terpikirkan, kita harus bilang juga ke tim bahwa bisa dikomunikasikan kepada leader, dan para leader juga harus admit bahwa ada yang missed di perubahan tersebut yang tidak terpikirkan di awal. Ketika itu terjadi, maka peran dari leader adalah harus mencoba untuk mencari solusinya atau mencoba menyampaikan lagi ke tim manajemen, “Ada ini lho yang kita tidak kepikiran di awal, dan apa yang harus kita lakukan?” 

Bisa saja jawabannya adalah perubahan yang sebelumnya diimprove menjadi perubahan yang lebih baru lagi. Sehingga bisa mengcover problem apapun yang muncul. Ingat, setiap perubahan pasti untuk menuju yang lebih baik. Tapi pasti ada impact lain yang bisa terjadi. Ketika itu terjadi, yang penting kita admit itu dan kita coba perbaiki terus menerus. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Jadi penting untuk memiliki transparansi dengan komunikasi yang baik ya. Mas Muhsin sendiri gimana cara membentuk komunikasi yang baik untuk tim yang Mas pimpin?

A: Kalau soal transparansi, intinya leader itu tidak selalu benar. Leader juga bisa salah. Kalau saya salah kasih tahu, saya akan admit dan transparansi bahwa “Oh, memang itu kesalahan yang saya lakukan.” Sehingga ketika transparansi itu dilakukan harusnya hubungan antara leader dan tim akan menjadi lebih baik. Tim pun tidak akan worry untuk memberi feedback kepada para leader-nya. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Tapi sebagai karyawan, Mas Muhsin memang tipe orang yang berani menyuarakan pendapatnya ya kalau ada yang salah atau tidak benar?

A: Yes, pasti aku akan kasih tahu. Karena kalau tidak dikasih tahu, berarti kita akan menjalani sesuatu yang salah terus menerus. Cuma ya bedanya adalah, speak up dengan solusi beda dengan speak up saja. Kalau speak up tanpa solusi, aku menganggapnya sebagai complain

Nah, sebaiknya jika menemui masalah, ya kita speak up dan kita mencoba mengutarakan solusi apa yang menurut kita benar. Bisa jadi jawaban solusi kita belum tentu benar ya, karena bisa jadi solusi yang diusulkan sudah pernah dipikirkan oleh tim manajemen atau oleh para leader. Dan mungkin ada blind spot yang tidak terpikirkan itu. 

Dengan kita speak up, sebenarnya akan bagus untuk perusahaan dan juga untuk diri kita. Karena bisa jadi yang kita pikirkan sebagai solusi, ternyata sudah dipikirkan dan ternyata ada miss-nya. Dari hal itu kita bisa belajar “Oh iya, gue enggak kepikiran dari awal.” Itu yang menurut gue blind spot yang tidak terpikirkan. Tapi ya sama-sama belajar, kalau kita diam saja justru kita jadi bersedia melakukan hal yang menurut kita tidak benar. Jadi tidak ada salahnya untuk speak up

________________________________________________________________________________________________________

Q: Terakhir nih Mas, banyak Alterrans yang masih takut untuk menyampaikan apa yang menurut mereka benar, ada tips dan saran gak dari mas Muhsin supaya Alterrans lebih speak up? 

A: Menurutku tidak berani speak up itu karena takut salah ya biasanya. Yang pertama harus dipikirkan adalah yang fokus awalnya bukan takut salah tapi memang untuk memberikan usulan saja. Tapi yang kedua, kalau istilah zaman sekarang jangan baperan kalau usulannya tidak diterima. Karena bisa jadi ada hal-hal yang sudah dipikirkan atau didiskusikan tadi yang aku sebutkan di pertanyaan sebelumnya. 

Jadi intinya yang pertama mindset kita adalah ketika ada masalah, kasih tahu dengan tulus dan ikhlas. Kamu merasa ada yang salah tapi diam tidak kasih tahu itu ya jauh lebih salah. Itu akan lebih bahaya dibandingkan kita sudah kasih tahu terus kejadian. 

Tapi ya balik lagi jangan baperan. Pas kita sudah kasih tahu lalu enggak di execute kita langsung baper, itu juga tidak boleh. Modalnya untuk speak up ya jangan baperan. Perkara ide kita di-execute atau tidak, itu belakangan yang penting kita sudah melaksanakan tanggung jawab kita sebagai karyawan, untuk memberikan yang terbaik kepada perusahaan. 

________________________________________________________________________________________________________

Nah, itu dia wawancara #RealStory kali ini. Apa pelajaran yang bisa kamu ambil? Semoga keseluruhan wawancaranya bisa menginspirasi dan menambah ilmu kamu ya. Kira-kira siapa lagi ya yang akan tim KAMIS wawancara? Kamu bisa merekomendasikan nara sumber #RealStory selanjutnya, lho! Yuk, sampaikan rekomendasi kamu melalui email ke [email protected] ya..

Buat yang penasaran dengan wawancara langsung tim KAMIS dengan Mas Muhsin, yuk langsung cek cuplikannya di channel Youtube Alterra ya!

Sampai bertemu di #RealStory berikutnya!

Baca Juga Artikel Alterrans Lainnya

Definisi Integritas dari Pandangan Seorang Erlandi

Halo Alterrans, Ada episode baru #RealStory, nih! Kali ini kita akan mewawancarai Erlandi selaku Internal Audit & Risk Management Sr. Manager. Apa aja nih yang kita obrolin hari ini? Kita membicarakan soal value Integrity. Semoga dari perbincangan ini bisa menjadi pelajaran baru untuk teman-teman ya. Yuk, simak langsung! ________________________________________________________________________________________________________ Q: Halo Mas Erlandi, menurut Mas apa sih […]

Read More

#RealStory: Berbincang Soal Perempuan Bersama Yeti Kurnia Damayanti

Selamat hari Kartini untuk semua perempuan di Alterra. Bagaimana kamu merayakan hari Kartini tahun ini? Mungkin ada yang sedang berjuang untuk menyelesaikan pekerjaan, atau mungkin sedang struggling bekerja di rumah karena harus membagi waktu untuk mengurus anak dan suami. Apapun itu, ingat perjuangan kamu tidak sia-sia! Untuk merayakan hari Kartini tahun ini, tim KAMIS mewawancari Yeti […]

Read More
×

How can we help you?

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar produk atau bisnis dengan Alterra, silakan isi form di bawah ini. Kami dengan senang hati akan menjawab dan membantu Anda.