fbpx
Ghea Rianty | 23 Jan 2020

#AltaTalks Vol. 3: Kenalan dengan Charisma Fadzri Triprakoso

Hello Alterrans,

#AltaTalks episode kali ini tim KAMIS mewawancarai salah satu mentee dari Alterra Academy batch 4 yang ternyata punya jurusan yang unik banget. Memiliki latar pendidikan Astronomi dari Institut Teknologi Bandung, ternyata tidak membuat Charisma Fadzri Triprakoso mengurungkan niatnya untuk belajar koding di Alterra Academy. Bagaimana kisah lengkapnya? Simak wawancara berikut ini:

 

Q: Halo! Kita kenalan dulu ya. Boleh dong kenalin diri kamu, nama lengkap, dan asal dari mana? 

A: Halo! Saya Charisma Fadzri Triprakoso. Saya anak ketiga dari empat bersaudara, dan saya satu-satunya cowok. Hehe. Kalau saya aslinya dari Jember, tinggal sama orang tua. Saya kuliah astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB). 

 

Q: Nah, kamu kuliah di jurusan Astronomi ITB, kalau yang banyak orang ketahui intinya kan mempelajari benda-benda langit. Tapi, yang kamu pelajari sendiri sebenarnya di ITB apa aja sih?

A: Sebenarnya kalau di ITB secara umum sih selain kita mempelajari soal major pendidikan kita, kita juga belajar tentang creative thinking sama critical thinking. Pertama itu. Yang kedua, setiap anak ITB, apa pun jurusannya itu wajib mempelajari yang namanya Lingkungan (pemanfaatan sumber daya lingkungan) sama Manajemen. Jadi, apapun jurusannya, apakah teknik, seni, atau sains, itu harus mempelajari tiga hal itu.

 

Q: Jadi ibaratnya itu, eksak jalan (major jurusannya), nah sosial dan personal development-nya juga jalan ya dengan adanya mata kuliah/pelajaran wajib itu di ITB?

A: Nah, iya bener. Kalau soal softskill-nya mungkin dari unit kegiatan mahasiswa-nya (UKM) masing-masing. Kalau Astronomi itu sendiri belajar tentang apa seperti yang dikatakan tadi, umumnya ya belajar benda-benda langit, tapi kalau fokusnya di Astronomi itu dibagi menjadi tiga fokus atau peminatan. Yang pertama teoritik, yang kedua komputasi data, yang ketiga observasi atau pengamatan. Jadi, tugas akhirnya bakal berhubungan sama tiga hal ini. Bisa kombinasi antar ketiganya atau fokus cuma satu aja juga boleh.

 

Q: Nah, kalau kamu sendiri termasuk yang mana dari ketiga fokus/peminatan itu?

A: Kalau saya sendiri kebetulan lebih tertarik ke komputasi data dan observasi atau pengamatan. Jadi saya bukan termasuk yang teoritik. Kalau teoritik kan kayak studi literatur, kemudian mengumpulkan jurnal dari mana-mana, jadi tidak ada lapangannya, murni di situ aja.

 

Q: Oke ini pertanyaan basic, kenapa harus pilih Astronomi? Yang kita dengar juga ITB itu satu-satunya kampus di sini yang buka jurusan Astronomi ya? Nah, kenapa kamu tertarik?

A: Awalnya saya tertarik Astronomi itu karena rasa ingin tahu sih. Curiosity saya yang pada saat itu tuh bener-bener: apa sih ini? Soalnya dulu sering banget dengar cerita dari nenek pas malam-malam kayak di atas di rooftop, bukan rooftop juga sebenernya tapi genteng rumah. Hahaha. Nenek cerita gimana-gimananya soal benda langit. 

Nah, itu saya sudah banyak pertanyaan. Pertanyaannya itu, ya biasalah kalau anak kecil kan pertanyaannya nyeleneh kan. Yang saya paling ingat juga itu, entah kenapa saya waktu kecil tuh pengen bilang: kita bisa enggak sih ke langit? Langit secara umum sih, tidak spesifik ke bintang atau apa. Terus kayak tertanam di otak saya, jadi pas mulai SMP & SMA saya sering ke perpustakaan sekolah cuma buat baca ensiklopedia yang bergambar. Tahu kan yang tebel itu? Nah, saya cuma lihat gambarnya aja, belum ke tulisan atau bacaannya. 

Awalnya kenapa pengen ke Astronomi itu pengen ke yang enaknya saja. Soalnya saya berpikir: kayaknya enggak ketemu Matematika nih atau Fisika jadi pengen yang benar-benar lapangannya saja. Tapi ya kenyataannya enggak, saya tetep ketemu lagi sama Matematika, Fisika. Hahaha. Karena tidak mungkin juga enggak ketemu kalau masuk di Astronomi. Jadi intinya, lebih ke curiosity dari masa kecil aja sih kenapa bisa sampai milih dan masuk di jurusan ini. 

Tapi sebenarnya itu pun saya juga bertentangan dengan keinginan ayah sama ibu. Soalnya Ayah itu ingin saya ke teknik, sedangkan ibu maunya saya ke STAN. Ya klasiklah orang tua. Sebenarnya ya saya ikutin juga tesnya sesuai kemauan orang tua. Cuma pada saat itu, akhirnya, saya bilang ke orang tua: kalau saya dapat beasiswa di ITB, kenapa enggak saya di ITB. Nah, Alhamdulillah pada saat itu saya keterima langsung beasiswa dari semester pertama. Beasiswanya KSE (Karya Salemba Empat), pernah denger kah?

Dulu itu buat beasiswa ini baru ada UI sama ITB, cuma kayaknya kalau sekarang sudah lebih menyebar lagi cakupan universitasnya. Tes STAN & Telkom saya juga ikut. Pas awal-awal SBMPTN. Keterima, cuma yang itu tadi sesuai deal-nya sama orang tua. Jadi saya akhirnya mengambil yang beasiswa, yang dua lain jalurnya mandiri. Beasiswanya sendiri biaya hidup per bulan, biaya buku. Di ITB pun ada subsidi silang untuk SPP-nya.

KSE itu tidak melarang untuk mengambil beasiswa lain. Kecuali kayak bidik misi kan tidak boleh tuh ambil beasiswa lain. Kalau KSE boleh, jadi saya dapat beasiswa SPP di ITB (nggak full, tapi keringanan), dan biaya hidup sama bukunya juga dapat. Meskipun dari orang tua juga bantu, tapi setidaknya meringangkan, dan nggak full juga. 

 

Q: Kalau dari kamu, pas memilih Astronomi, apakah sudah kebayang untuk prospek masa depannya bakalan seperti apa?

A: Nah, kalau saya sebenernya saat itu tidak terlalu terbayang mau jadi apa. Cuma terbayang pas tahun kedua kuliah. Tahun pertama belum karena memang ingin saja masuk jurusan itu. Pas tahun kedua karena melihat alumni-alumni, saya tuh sebenernya pengen jadi researcher-nya. Soalnya pun, pas kuliah itu, saya lebih sering ke Boscha-nya daripada di kampus. Jadi, kayak mau jadi asisten peneliti. Makanya mengambil tugas akhirnya pun fokus di pengamatan. 

 

Q: Kalau boleh tahu, tugas akhir kamu pas kuliah, memang membahas tentang apa tuh?

A: Pengamatan matahari. Aktvitasnya. Awalnya milih itu karena entah kenapa pas di angkatan saya yang ngambil pengamatan itu cuma sedikit. Jadi dari 30 angkatan rata-rata kalau nggak memilih teknik komputasi atau full teori. Bukan karena paling gampang juga, tapi paling tidak riskan karena nggak megang alat (untuk pengamatan). Contohnya saya dan temen-temen yang memegang alat di pengamatan itu rata-rata lulusnya tidak 4 tahun, karena kalau alatnya rusak tidak bisa diperbaiki di Indonesia, harus dikirim dulu ke luar. 

Nah, kenapa saya milih matahari untuk diamati aktivitasnya, dari kebanyakan orang di Astronomi untuk pengamatan itu lebih pilih yang malam. Entah itu bintang, galaksi, atau satelit. Saya pilih matahari karena objeknya paling dekat dan paling banyak efeknya ke kehidupan kita. 

 

Q: Terus gimana akhirnya bisa ketemu ALTA?

A: Dari temen Digitalent (Digital Talent Scholarship dari Kemenkominfo). Jadi sebenernya saya daftar dan ikut Digitalent untuk mengisi waktu luang setelah lulus. Setelah itu sebenernya saya sambil mengerjakan freelance aja sih, lebih ke mengajar olimpiade, dan kebanyakan mengajar walaupun saya bisa kayak editing gambar, bantu desain produk (Photoshop sama Adobe Premier), kecuali After Effect saya belum pelajari. Desain grafis bisa, tapi tidak terlalu detail. Kebetulan ada peluang kalo temen-temen saya nge-hire yang profesional kan pasti biayanya tinggi, karena temen-temen tau saya lagi freelance, nah pas banget makanya pakai jasa saya. 

Tau ALTA dari temen di Digitalent, walaupun dia bukan dari batch sebelumnya. Saya bahkan baru tahu ALTA itu ya sudah jalan Batch 4 ini. Temen saya kasih tahu ini lho ada ALTA. Dia kuliahnya di Malang, tapi ambil Digitalent-nya waktu itu sama-sama di ITS, dia anak informatika, kerja di Surabaya, terus cerita soal ALTA. Dia bilang: ini kamu bisa daftar walaupun background kamu bukan IT. Kemudian saya baca-baca infonya, bukan cuma dari website, saya baca LinkedIn (Alterra), Instagram, stalking semuanya. Saya ingin tahu, ini perusahaan apa sih sebenernya? Ternyata pas lihat di Instagram: oh udah sampai Batch 3. Akhirnya saya coba daftar ya Alhamdulillah diterima. 

 

Q: Terus hasil dari stalking online kamu nih soal Alterra dan Alterra Academy, yang buat hooked banget di kepala kamu sampai akhirnya terpikir kalau ini tuh perusahaan dan program terpercaya, itu dari channel mana?

A: Instagram! Soalnya di Instagram pada saat itu saya lihat Alterra Academy cukup aktif. Saya beranggapan kalau di Instagram itu cukup aktif berarti di balik itu akan lebih aktif lagi walaupun mungkin tidak tiap hari ya aktifnya, mungkin seminggu sekali, gitu. Dan saya ingin ikut terjun di bagian yang aktif itu. Yang paling bikin saya penasaran itu sebenarnya LinkedIn. Makanya waktu interview, kan ada Mas Mail sama Bang Yovan, saya tanya Mas Mail tentang LinkedInnya Alterra. Penasaran, terus ya apply.

 

Q: Menurut kamu, apa bedanya Digitalent dan ALTA? Baik dari materi yang dikasih ataupun output-nya?

A: Jauh sih, kalau menurut saya bedanya. Karena Digitalent tuh tidak terlalu dipersiapkan dengan matang, dibandingkan Alterra Academy. Ya standar program pemerintah lah. Hahaha. Bahkan setelah lulus itu, tidak ada follow up lebih lanjut lulusannya mau ngapain. Padahal sebenarnya bisa di-follow up kalau melihat antusias pesertanya. 

Kurikulumnya sih yang jauh beda. Digitalent itu ya normal karena campuran, cuma 4 jam sehari materinya. Level kesulitannya itu menengah ke bawah. Bahkan orang yang benar-benar murni bukan IT pun tidak perlu terlalu bekerja keras untuk mengikuti. 

Kalau di Alterra Academy, belajarnya seharian, dan cukup bikin kelelahan. Kayak saya, di kerjaan mungkin SQL itu cukup menguasai, makanya waktu SQL kemarin nilai saya mungkin termasuk yang cukup bagus. Tapi, kalau yang Algoritma, saya agak keteteran.  Weekend pun kadang ada challenge juga.

 

Q: First impression kamu di kelas pertama gimana tuh? 

A: Kalau ke mentor normal-normal aja ya, ya mungkin memang kayak gitu. Istilahnya, maksudnya ya dikasih dasarnya saja, dibimbing, bukan disuapin dari A-Z. Materi yang saya dapat itu sangat dasar, tapi tugasnya sangat advanced. Yang membuat otak saya berpikir keras ya itu. Bagaimana menerima materi yang saya dapat, diterapkan pada challenge atau tugas yang advanced

 

Q: Oke, setelah Digitalent, terus lanjut ALTA. Selama kamu kuliah, sebenernya kepikiran enggak sih di masa depan kamu pengen coba belajar koding dan jadi engineer?

A: Kalau pas jaman kuliah enggak pernah. Saya lebih ingin jadi researcher waktu itu. Tapi karena ada gap year pas saya freelance saya mencoba mempelajari beberapa hal lain termasuk IT. Jadi, saya rasa emang bakal berguna dan berkembang sekali ke depannya. Ada rasa ingin tahu juga ke IT, makanya saya pelajari. Walaupun sebenarnya Sabtu-Minggu di luar ngoding saya juga tetep ngedesain, cuma saya bilang ke teman saya kalau ada yang minta bantuan, saya udah tidak bisa freelance kayak sebelumnya, karena waktunya sudah habis buat belajar.

 

Q: Misalnya kamu lulus di ALTA Batch 4, nantinya akan kerja jadi Software Engineer di Alterra. Kamu sudah kebayang belum, bakal jadi engineer yang seperti apa? Atau tertariknya di mana sih?

A: Amin! Kalau kebayang sih saya lebih ingin tidak di Malang, yang pertama itu. Karena saya ingin ketemu banyak orang, kalau di Malang ya ketemunya mungkin itu-itu lagi, ya entah mentornya atau anak-anak ALTA lagi. Saya pengen ketemu orang baru yang memang membuka wawasan saya terhadap apa yang ingin saya lakukan. Yang ingin saya lakukan lebih ke depannya, mungkin ke FrontEnd atau data sih. Belum menerima BackEnd, jadi saya belum tahu seperti apa. Makanya sejauh ini tertariknya masih ke dua itu saja.

 

Q: Harapan kamu untuk diri kamu sendiri kan perjalanan di sini masih panjang, kamu pengennya bisa ngapain dan impian apa yang ingin kamu capai di Alterra Academy?

A: Kalau saya sih secara personal saya ingin, di mana pun saya berada, saya ingin jadi yang paling baik. Kalaupun misalnya lulus, ya jangan pas-pasan. Pengennya yang terbaik. Kalau saya nanti berlanjut di Alterra, harapannya saya nggak cuma berbasis di Malang, tapi bisa ke Jakarta misalnya. Biar saya bisa banyak ketemu orang dan dapat wawasan lain.

 

Q: Terakhir, kalau kita berandai-andai, kamu kan punya dua ketertarikan sekarang: Astronomi dan Tech. Kamu kepikiran enggak, bikin sesuatu yang ada kaitannya sama Astronomi dan kemampuan kamu dalam tech/ngoding?

A: Kepikiran iya. Tapi menurut saya possibility-nya masih sangat kecil. Kenapa? Karena pertama kita di Indonesia yang bahkan ke tech pun belum fokus. Fokusnya tuh masih ke sandang, pangan, papan. Dari pemerintah sendiri belum ada timeline atau aktivitas yang fokus ke tech, apalagi Astronomi. Jadi, untuk memajukan itu saya pikir akan sangat sulit bagi saya. 

Materinya itu, yang saya pikirkan, lebih ke satelit dan cuaca antariksa. Menurut saya Indonesia itu negaranya strategis banget. Orang utara butuh Indonesia buat ke selatan, dan orang selatan butuh Indonesia buat ke utara. Jadi Indonesia tuh salah satu penghubungnya. Bahkan saya sempat mengobrol bersama dosen juga dan ikut seminar di LAPAN waktu itu. Kok kenapa di Indonesia belum buat space shuttle sendiri?

Space shuttle itu wahana untuk meluncurkan satelitnya. Soalnya kalau saya liat di kuliah saya ambil lintasan satelit itu, paling efektif itu memang di Indonesia. Tekanannya tidak terlalu tinggi, cuacanya juga lebih tropis. Kalau misalnya di utara kayak di Prancis itu harus menunggu musim panas baru dia bisa diluncurkan. Di sini kan kalau hujan juga tidak terlalu gimana sampai ada badai. Kalau menurut saya dengan kondisinya ini Indonesia bisa lebih maju kalau dari pemerintahnya juga mendukung dan fokus ke sana. 

Saya nggak terlalu optimis, tapi nggak pesimis. Cuma ya secara realita ya memang masih jauh lah proses dan perkembangannya untuk bisa sampai ke sana. 

 

Q: Oke, good luck dengan semua rencana kamu ya. Terima kasih atas waktunya! 

A: Amin. Terima kasih juga ya.

Baca Juga Artikel Alterrans Lainnya

Keseruan Year-End Meet Up Drupal Indonesia di Alterra

Halo teman-teman developer! Pastinya sudah familiar kan dengan Drupal? 🙂 Seperti dikutip dari situs Drupal.org: “Drupal is content management software. It’s used to make many of the websites and applications you use every day. Drupal has great standard features, like easy content authoring, reliable performance, and excellent security. But what sets it apart is its […]

Read More

#AltaTalks Vol. 2: Mengenal Garry Ariel

Selamat datang di #AltaTalks Vol. 2. Kali ini tim KAMIS menyempatkan diri untuk berbincang dengan Garry Ariel, salah satu mentee batch 4 yang ternyata berasal dari latar pendidikan matematika dan pernah ikut olimpiade internasional. Gimana keseruan wawancara kali ini? Simak di sini ya!   Q: Hi, Gar! Boleh cerita dulu kah tentang personal life kamu? Anak keberapa? […]

Read More
×

How can we help you?

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar produk atau bisnis dengan Alterra, silakan isi form di bawah ini. Kami dengan senang hati akan menjawab dan membantu Anda.