Audi Fristya | 31 May 2021

#RealStory: Kiat Meraih Kepercayaan Customer dari Rahayu Suwarno

Hi Alterrans,

Kembali lagi di episode terbaru #RealStory, nih. Kali ini tim KAMIS kembali mewawancarai salah satu leader perempuan di Alterra. Tak lain dan tak bukan adalah, Rahayu Suwarno atau yang biasa dipanggil Ayu. Nah salah satu topik yang kita bahas di episode kali ini adalah bagaimana kiat-kiat Mba Ayu dalam membangun komunikasi dan kepercayaan customer. Penasaran gimana cerita lengkapnya? Yuk, langsung disimak wawancaranya!

________________________________________________________________________________________________________

Q: Gimana cara Mba Ayu membangun komunikasi dan kepercayaan customer eksternal sehingga mereka percaya dengan kita?

A: Kalau berbicara soal Business Development, Sales, itu memang kaitannya erat dengan membangun relationship. Bahkan, beberapa artikel menyebutkan bahwa 70% – 90% keputusan untuk membeli produk atau tidak membeli produk itu sebenarnya bukan melulu tentang harga atau seberapa bagus produknya. Tapi, justru sebenarnya yang paling penting ialah membangun relationship. Dimensi layanannya apa saja sih sebetulnya yang bisa membuat orang jadi percaya dan jadi memutuskan untuk mau membeli sesuatu. 

Business Development lebih banyak related kepada sales ya, tapi kalau aku sendiri sih sebetulnya dalam membangun kepercayaan sama klien atau customer itu, aku selalu berpegang pada tiga poin basic. Yang pertama kalau buat aku adalah first impression. First impression saat pertama kali kenalan dengan calon customer itu penting banget, poinnya cukup banyak ya kalau mau dibagi-bagi lagi bisa. Dari appearance,  ada how we look, gimana appearance kita di depan mereka, rapi kah? Atau mungkin tidak harus mewah tapi good looking, cara berbicara kita enak, cara convince pun enak. 

Atau mungkin ada beberapa poin kalau mau ketemu dengan calon customer yang mungkin klien besar, aku cari tahu dulu tentang PIC-nya siapa? Dia punya background apa? Karena itu bisa membantu first impression kita. Dengan tahu banyak tentang customer, otomatis mereka biasanya impress tuh. “Kok tahu ya?” “Kok tahu ya gue pernah menulis buku?” “Kok tahu ya Mbak ini, aku pernah kerja di sini?.” Hal-hal semacam itu yang membuat first impression kita dapet banget dan itu bisa membangun relationship ke customer

Yang kedua adalah menjadi pendengar yang baik. Kadang kalau kita lagi bidding, lagi ngobrol sama klien, kadang kita terfokus dengan barang yang kita jual. Padahal sebetulnya, menggali dan berusaha menjadi pendengar yang baik itu penting banget. Seneng banget tuh biasanya client-client kalau mereka didengar keluhannya apa, kebutuhannya apa, atau mungkin kita bisa menggali untuk melihat demandnya sebenarnya ada enggak sih? Bahkan dari yang tidak ada, bisa jadi ada kalau seandainya kita mau belajar untuk mendengarkan customer. 

Nah, kalo yang ketiga menurut aku adalah professional attitude. Professional attitude itu kaya gimana caranya meyakinkan customer dengan professional, kemudian bring data, terus juga solutif. Dan yang paling penting adalah tepati janji, dengan tepati janji ini menurut aku salah satu poin yang paling penting yang membuat customer jadi attach sama kita. 

Tiga basic ini, yang aku selalu pegang untuk membantu membangun komunikasi maupun membangun kepercayaan dengan customer. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Sebagai seorang leader, value Alterra apa sih yang Mba Ayu paling tekankan untuk ada di tim yang Mba pimpin? 

A: Dari 5 value Alterra, berarti ada Customer Focus, Innovation, Champion, Integrity, dan Collaboration. Kalau yang paling related menurut aku pasti Customer Focus, tapi kalau berbicara soal yang paling ditekankan itu sebetulnya semua. Karena menurut aku, value-nya Alterra itu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Jadi bukan berarti karena kita adalah sales, kemudian Customer Focus yang paling kita prioritaskan. Tidak, tapi di situ juga ada part Innovation, misalnya pada saat kita bertemu dengan customer, kita bisa bisa jadi lebih kreatif dan kita dituntut untuk berinovasi. 

“Oh iya, dengan demand ini kita bisa provide solusi yang ini,” jadi seperti Innovation, bisa muncul kan kadang-kadang saat kita ngobrol dengan customer. Jadi kalau ditanya mana yang paling ditekankan, semuanya memiliki peranan masing-masing. Jadi semua related dan sama pentingnya. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Divisi Business Development biasanya berhubungan dengan target yang ambisius. Kadang-kadang memiliki sifat ambisius itu terkadang dipandang negatif, apa pandangan Mba soal hal tersebut?

A: Sebenarnya ambisius itu bagian dari sifat atau karakter ya. Jadi motivasi dan background setiap orang itu berbeda-beda. Jadi memang ada beberapa orang yang tidak ambisius dan lebih go with the flow, tidak mengejar karier, cenderung lebih slow gitu ya. Tapi sebetulnya dia tidak ambisius. Tapi dia tipe orang yang mengerjakan pekerjaannya dengan hati, dan totalitas. Hal tersebut yang akhirnya jadi impact kepada karier atau performance dia. 

Kalau sales memang akan lebih baik kalau dia memiliki sifat ambisius, tapi itu bukan sesuatu yang wajib. Jadi instead of mewajibkan “Eh lo harus ambisius ya,” “Lo harus punya ini,” Enggak! Sebenarnya aku lebih memastikan kepada semua individu di dalam tim itu “Kita harus satu frekuensi ya,” “Kita punya gol dan visi misi yang sama,” “Kita grow bareng ya,” Jadi once aku memastikan bahwa kita satu tim sudah sepakat, berarti masing-masing individu itu sudah sadar dengan responsibility atau dia harus mengambil peran di dalam tanggung jawabnya masing-masing. 

Terlepas ambisius atau tidak, kalau dalam satu tim memang ada yang sifatnya A, sifatnya B, justru menurut aku itu saling melengkapi. Jadi bukan semua harus ambisius, tapi memastikan semuanya mempunyai gol yang sama. Karena dengan gol yang sama, kita mau jadi Champion kan semuanya? Dari situ kita mau tidak mau, akan menggerakkan diri sendiri. Karena ini bukan hanya achievement sendiri tapi juga termasuk pencapaian tim. Grow-nya juga bareng, that’s why masing-masing harus sadar akan tanggung jawabnya masing-masing. 

________________________________________________________________________________________________________

Q: Mba Ayu juga kan seorang Ibu, bagaimana cara membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga? Pernah kesulitan kah?

A: Ini salah satu pertanyaan yang menarik banget, nih. Sudah jadi dilema untuk ibu-ibu ya dari dulu, untuk ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Mana yang lebih baik sih sebetulnya? Ibu rumah tangga yang fokus kepada anaknya atau ibu yang bekerja? Tapi kalau dipikir lagi, menjadi ibu itu bukan perlombaan 17an yang berlomba-lomba jadi yang terbaik, kemudian dapat piala dan label. Tidak seperti itu. Menurut aku setiap ibu pasti punya medan perang masing-masing, otomatis juga punya strategi masing-masing untuk memenangkan medan perangnya. 

Salah satu medan perangnya ibu bekerja adalah membagi waktu, bagi waktu antara anak, keluarga, dan juga pekerjaan. Enggak bisa denial sih, ada kalanya anak dan keluarga complain, itu menurut aku manusiawi dan mau tidak mau kita harus embrace itu.  Ya sudah it is what it is. Bahwa terkadang menjadi ibu bekerja, aku tidak bisa memberikan waktu penuh untuk anak dan begitupun sebaliknya. Untuk pekerjaan kadang juga tidak bisa memberikan full 100% terhadap pekerjaan disebabkan suatu kondisi tertentu yang memang tidak berjalan dengan sempurna. Ya memang mau tidak mau yang pertama kita harus terima dulu, keadaan tidak sempurna. Harus dibagi waktu antara keluarga dan pekerjaan, kadang pekerjaan left behind, kadang keluarga yang left behind. Pertama, harus terima dulu keadaannya, dan kedua mau tidak mau kita hanya bisa berusaha memberikan yang terbaik. Contohnya, aku tidak bisa memberikan kuantitas waktu yang cukup untuk anak, tapi solusinya apa? Aku harus punya support system yang baik. Segala kebutuhan terkait waktu yang tidak bisa aku  kasih, masih bisa dibantu oleh support system aku. 

Sebisa mungkin aku juga mementingkan quality time daripada quantity. Jadi walaupun cuma bisa satu kali dalam satu minggu, tapi aku memastikan bawah satu hari tersebut adalah waktu yang benar-benar berkualitas buat keluarga ataupun buat anak. Kalau masalah bagaimana cara membaginya? Mau tidak mau kita harus cukup fleksibel ya. Ada kalanya kita harus mementingkan pekerjaan ketimbang keluarga, atau sebaliknya. Berusaha diseimbangkan ya berdasarkan prioritas dan konsekuensinya.

________________________________________________________________________________________________________

A: Apa pandangan Mba mengenai work and life balance? Apa menurut Mba bisa terwujud? Atau ada saran kah buat Alterrans mengenai hal ini? 

Q: Kalau pertanyaannya adalah penting atau tidak, ya pasti penting ya. Banyak banget teori tentang work life balance, yang namanya kerja dan juga kehidupan personal itu harus lho balance! Ya idealnya memang seperti itu, tapi pada kenyataannya kita sering dihadapkan dengan kondisi yang tidak ideal, terutama tuntutan dari jam kerja dan lain-lain. Walaupun kita tau tidak bisa mencapai suatu kondisi yang ideal di work life balance, tapi setidaknya work life balance itu bisa menjadi pegangan kita untuk stay healthy. Karena kalimat itu merujuk bukan hanya pada kesehatan raga, tapi juga kesehatan jiwa. Jadi untuk mencapai itu, penting dan membantu banget ketika kita mengatur antara jadwal pekerjaan dan personal. Karena justru dengan lebih teratur, bisa membantu kita untuk menjadi lebih produktif dan kreatif. 

Kenapa? Karena pada saat kita take a break, atau melakukan apapun hobi yang kita suka, tentu saja otomatis kita akan happy. Dengan merasakan kebahagiaan, biasanya kita akan lebih menjadi kreatif, jadi menurutku penting banget. Tapi ya itu ketika dihadapkan dengan medan perangnya, setiap orang harus memiliki strateginya masing-masing. 

Tapi kalau aku boleh saran buat Alterrans, jangan underestimate work life balance, walaupun terlihat sulit. Walaupun kamu hanya punya waktu sebentar, tapi itu penting banget buat balancing mental dan badan kita supaya tetap sehat. 

At least walaupun sedang break, jalan-jalan, atau mungkin melakukan hobi itu cuma buat senang di hari tersebut, dan tidak menyelesaikan masalah apa-apa tapi setidaknya bisa recharged diri. Hari ini sudah bahagia, sudah lebih segar, sudah bertambah energinya, dan buat kita siap untuk next challenge-nya. Jangan sampai tidak ada jeda sama sekali, itu biasanya membuat jadi “numpuk” dan lama-lama stres, dan bisa buat badan ikutan tidak sehat. Ingat, work life balance itu penting banget. Walaupun cuma punya sedikit waktu, pastikan kamu selalu meluangkan waktu untuk me time ya! 

________________________________________________________________________________________________________

Nah, itu dia. Jadi ingat ya teman-teman, sesibuk apapun itu jangan lupa untuk me time. Supaya kita bisa recharged tubuh kita dan akhirnya bisa lebih produktif dan kreatif lagi. Segitu dulu nih episode #RealStorynya, buat yang penasaran dengan proses wawancaranya, silahkan langsung tonton videonya di bawah ini ya. Sampai bertemu lagi di #RealStory episode berikutnya!

Baca Juga Artikel Alterrans Lainnya

#RealStory: Membicarakan Soal Kolaborasi Bareng Muhsin Shodiq

Hola Alterrans! Bagaimana libur lebarannya? Semoga semua tetap menjalankan protokol kesehatan ya! Nah, lebaran usai ada #RealStory baru yang siap menemani kamu menghabiskan bulan Mei ini. Ada siapa kali ini? Yes, ada Muhsin Shodiq selaku Head of Architecture akan membagikan cerita dan tips menginspirasinya mengenai kolaborasi tim. Tidak perlu lama-lama, yuk langsung simak wawancara lengkapnya! ________________________________________________________________________________________________________ Q: […]

Read More

Definisi Integritas dari Pandangan Seorang Erlandi

Halo Alterrans, Ada episode baru #RealStory, nih! Kali ini kita akan mewawancarai Erlandi selaku Internal Audit & Risk Management Sr. Manager. Apa aja nih yang kita obrolin hari ini? Kita membicarakan soal value Integrity. Semoga dari perbincangan ini bisa menjadi pelajaran baru untuk teman-teman ya. Yuk, simak langsung! ________________________________________________________________________________________________________ Q: Halo Mas Erlandi, menurut Mas apa sih […]

Read More
×

How can we help you?

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar produk atau bisnis dengan Alterra, silakan isi form di bawah ini. Kami dengan senang hati akan menjawab dan membantu Anda.